TEKNOLOGI PEMBANGKIT LISTRIK RAMAH LINGKUNGAN

0 comments
TEKNOLOGI PEMBANGKIT LISTRIK RAMAH LINGKUNGAN

DETAIL

Penerbit : ITB PRESS
ISBN : 978-602-0705-45-3
Penulis : Ariono Abdulkadir
Tahun : 2019
Berat : 350 g
Ukuran : 17.6x25 cm
Halaman : -
Harga : Rp 130.000,-
Diskon : Rp 123.000,-

ULASAN

Dalam buku Teknologi Pembangkit Listrik Ramah Lingkungan, pembaca diberi informasi dan pengayaan wawasan tentang energi dan ketenagalistrikan. penulis mengantisipasi berbagai perubahan yang terjadi sejak 2010 hingga ke depan. Pada awal 1970-an, teknologi mulai dapat mengatasi hujan asam dan pengotoran asam sulfat di udara, dengan munculnya pembangkit listrik jenis baru yang dilengkapi dengan Selective Catalyst Reduction (SCR), Fluidized Gas Desulfurization (FGD), dan teknologi bersih lingkungan lainnya. Kemudian digunakannya teknologi baru supercritical dan ultra-supercritical power plants yang beroperasi di atas suhu dan tekanan kritis di atas triple-point dalam termodinamika.

Selanjutnya, berbagai usaha teknologi diarahkan pada pengurangan bahkan penghilangan (eradikasi) gas rumah kaca atau green house gases (GHG), yaitu emisi karbon dioksida yang menghasilkan pemanasan global. Pada saat ini, teknologi penyimpanan gas rumah kaca dalam waktu yang sangat lama diarahkan pada pemanfaatan bekas tambang migas, mineral, dan garam di dalam tanah, atau laut dalam. Metode ini disebut CCS atau carbon capture and sequestration yang mulai dilirik banyak negara yang bergantung pada pemanfaatan energi fosil (batubara, dll.) dalam pembangkitan energi listrik, seperti Amerika Serikat, Jerman, Cina, Eropa Timur, dan mungkin Indonesia.

Metode CCS masih dalam pengembangan komersial dalam hal teknologi, kemapanan, dan ekonominya, tetapi di seluruh dunia telah diterima sebagai teknologi yang menjanjikan. Teknologi ini tidak seluruhnya berhasil menghilangkan pencemaran lingkungan dari gas-gas SOx (sulfur), NOx (nitrogen), dan SO2 (gas rumah kaca), tetapi hanya mampu mengurangi hingga batas yang aman menurut ketetapan international, baik yang diatur oleh Protokol Kyoto maupun COP-15 UNFCCC Copenhagen pada Desember 2009.